Lewat “Majana”, Kencana Mandiri Berjaya

Bagikan:

Brebes – Kabupaten Brebes sebagai kawasan penghasil bawang dan telur asin, orang sudah mafhum. Namun sebagai penghasil kopi? Tak banyak yang mengetahuinya. Padahal, di Brebes terdapat varietas kopi robusta yang namanya kini mulai mencuat namanya. Salah satunya adalah robusta “Majana”.

Varietas ini, salah satunya dikembangkan oleh Kelompok Tani “Kencana Mandiri” di Dusun Mayana, Desa Legok, Kecamatan Bantarkawung. Dari namanya, bisa ditebak kalau robusta Majana adalah kopi robusta khas dusun Majana.

Menurut Hendra Purbaya, Ketua Kelompok Tani Kencana Mandiri, para petani di kawasan Desa Legok, memang sudah sejak lama mengembangkan tanaman kopi. Dengan ketinggian wilayah antara 500-600 meter di atas permukaan laut, kawasan Desa Legok, memang cocok untuk budidaya kopi.

“Masyarakat umumnya mengembangkan kopi robusta yang bibitnya berasal dari bantuan pemerintah,” kata Hendra, Minggu (24/1).

Meski demikian, Desa Legok ternyata menyimpan varietas lokal yang ternyata unggul. Varietas tersebut umumnya tumbuh di Dusun Mayana, tempat Hendra tinggal. Karena itulah kopi robusta tersebut diberi nama “Majana”.

“Secara fisik, perbedaannya, pada kopi robusta bantuan pemerintah, grombol buahnya rapat, sementara varietas Majana, ada jarak di antara setiap grombol buah,” jelas Hendra.

Karena itulah, kemudian Kencana Mandiri mengembangkan varietas Majana di kebun mereka, sejak tahun 2018 silam. Hasil panennya pun lumayan berlimpah. Dari 1 kali panen, per anggota berhasil memanen sebanyak 1 kuintal kopi. Dengan jumlah 50 orang anggota, total kopi yang bisa dihasilkan Kencana Mandiri mencapai 50 kuintal sekali panen.

Mulanya di tahun 2016, petani belum terlalu mengurusi tanaman kopi mereka. Saban panen, kopi-kopi yang masih dalam bentuk buah (cherry) itu, dijual ke tengkulak. Tengkulak membeli dengan sistem tebas di harga Rp200 ribu-Rp300 ribu per kuintal.

READ  Rencana Reshuffle Kabinet

“Ternyata hasilnya panennya lumayan banyak, sejak itu petani mulai tertarik dengan kopi,” ujar Hendra.

Sejak itulah, para petani, khususnya di Dusun Mayana, mulai serius mengembanagkan tanaman kopi. Terlebih, kemudian mereka mengetahui ada tanaman kopi khas lokal yaitu varietas Majana.

Maka sejak tahun 2018, Hendra mulai membudidaya kopi dan membentuk petani muda Desa Legok. Awalnya, anggota kelompok tani ini hanya berjumlah 10 orang, namun kemudian berkembang hingga 50 orang.

Sekarang, Hendra sudah bisa menampung hasil panenan petani sekitar 3 kuintal pertahun dalam bentuk greenbean. Sisanya dijual ke Pasar Salem dalam bentuk biji kopi basah dengan harga Rp2.500-Rp3.000 per kilogram.

Hanya saja, kata Hendra, untuk bisa membeli hasil panen kopi petani, dia memang masih kekurangan permodalan dan pasar yang masih terbatas. “Saya membeli kopi dari petani seharga Rp5.000 per kilogram, kemudian kopi disortir dan kualitas yang baik kami olah, sedangkan sisanya kami lepas ke pasar dalam bentuk basah,” jelas Hendra.

Untuk kopi yang berkualitas baik, Hendra mengolahnya dalam bentuk kemasan 100 gram yang dijual seharga Rp15.000. Hendra bersama kelompok taninya juga mendirikan Cafe Majana sejak tahun 2020 lalu, untuk mempromosikan kopi robusta Majana.

Ketua Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Ratih, yang berkunjung ke kebun milik Kencana Mandiri, Minggu (24/1) mengatakan, apa yang dilakukan oleh kelompok tani ini sangat menarik untuk bisa dipelajari oleh petani kopi lainnya.

“Bagi pemuda tani HKTI, kunjungan ini adalah untuk ajang belajar, dan kami bisa menindaklanjuti agar bisa membantu petani di sini dari sisi pemasaran, dan lainnya,” kata Ratih.

Hendra sendiri ke depan, memang berharap ada bantuan dari pemerintah, khususnya untuk pemasaran agar lebih kompetitif. “Supaya harganya agak lebih mahal dari harga jual di tengkulak,” kata lulusan STIKES Ahmad Yani Jurusan Keperawatan, tahun 2015 itu.

READ  KKP Mengajak Nelayan Menjaga Ekosistem Laut Bersama

Hendra juga berharap ada bantuan dalam bentuk teknologi pengolahan pasca panen agar bisa menjual kopi dalam bentuk greenbean dan tidak lagi dalam bentuk buah segar (cherry). “Perbandingannya, kalau dijual cherry harganya paling mahal Rp.3000 per kilogram sementara dalam bentuk greenbean bisa Rp35.000 per kilogram,” pungkasnya.

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *